Kamu bisa merencanakan menikah dengan siapa, tapi kamu tidak bisa merencanakan cintamu untuk siapa.
Kamu Pernah Alay?
- *Le me nemu aplikasi yang bisa lihat status lama di Facebook in a comfortable way
- Old Me : Blahblahblah.. (dengan bahagianya)
- Now me : Shut up! You are embarassing me!! *lempar meja
- Wanna try? Jangan lupa jauhkan diri anda dari benda-benda tajam, www.archivedbook.com
Ujung Mimpi
“Akaaang kumaha damang? Tadi siang @urbanUI berhasil nambahin 10 orang masuk database :D”
Saya diam sejenak, memperhatikan setiap kata dalam mention itu. Memori pun menyeruak, memancing saya membuka laman grup Facebook komunitas mahasiswa UI asal Bandung, “Urban”.
Kini memori saya berada di 4 sampai 5 tahun yang lalu, di sebuah kota yang cantik bernama Bandung. Bagi sebagian besar siswa SMA di sana, terutama bagi siswa sekolah saya apalagi sekolah tetangga, hanya ada satu nama saat ditanya “Mau ke mana setelah lulus?” : Kampus Gajah Duduk. Beberapa yang lain mungkin ingin ke Kedokteran di Jatinangor. Sudah ada semacam rute yang jadi aksioma, “orang sukses itu begitu.”
Saya, seperti semua orang di posisi tersebut tentunya, dihadapkan pada pilihan : mengikuti mainstream “sukses”, resikonya saya bisa layu sebelum berkembang, karena angka bukan dunia saya; atau peduli amat dengan apa kata orang dan ikuti apa yang saya cintai. Bismillah, saya pun memilih yang kedua.
Saya tiba pada persoalan yang sesungguhnya. Saya selalu ingin yang terbaik, nomor satu! Dan, menurut passing grade di tempat bimbel saat itu, tempat terbaik untuk dunia yang ingin saya cintai adalah di Pohon Ilmu Pengetahuan.
Saya tahu Pohon Ilmu Pengetahuan sewaktu reformasi ‘98. Saat itu di televisi banyak berita tentang mahasiswanya. Suasana saat itu membuat nuansa heroik terasa saat melihat kuning di jalanan. Warna-warna lain mungkin ada, namun tak terekam dalam memori saya. Lagipula, dalam obrolan tentang ‘98, biasanya saya hanya dengar dua nama, Pohon Ilmu Pengetahuan dan satu lagi yang mahasiswanya ditembak polisi.
Selain punya memori heroik tentang mereka, saya tahu, Pohon Ilmu Pengetahuan adalah salah satu yang terbaik di Indonesia (memang terbaik -tanpa salah satu- jika menurut versi saya, dulu maupun sekarang). Dari namanya saja sangat keren, sangat efisien; hanya ada dua kata tetapi secara langsung-tanpa banyak bicara mewakili suatu kebesaran, suatu nama yang ingin saya banggakan ke penjuru dunia : “Indonesia”.
Pohon Ilmu Pengetahuan lalu menjadi mimpi yang saya dekap kuat di hati. Masalahnya, mimpi itu rasanya sangat besar, terlalu besar, hingga saya merasa ia tak muat untuk saya masukkan dalam hati saya, hati seorang biasa. Hati seorang yang bukan siapa-siapa dan tak bisa apa-apa.
Kemustahilan menjadi kabut tebal saat itu. Rasanya Pohon Ilmu Pengetahuan tak mungkin saya capai. Namun detik ini, saya berada di sebuah penghujung dari sesuatu yang saya bayangkan tak akan bisa mencapainya.
Sesungguhnya lima tahun terakhir ini adalah keajaiban. Bukan hanya tentang semua hal yang saya alami dalam lima tahun terakhir itu, tetapi juga keberadaan saya di sini yang mengizinkan saya mengalami semua itu; keajaiban yang sungguh nyata. Meski, jarang saya sadari dan syukuri. Meski, setelah tergenggam di tangan tiba-tiba semuanya teranggap menjadi taken for granted. Ah, sungguh tak tahu diri saya ini.
Kini saya berada di sebuah ujung akhir dari sebuah mimpi. Yang berarti, saya berada di sebuah ujung awal dari sebuah mimpi yang lain; yang saat ini, hati saya terasa penuh sesak bahkan untuk membayangkannya; yang membuat saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa kamu yakin punya cukup keberanian untuk memimpikannya? Atau kamu masih bodoh sampai suatu hari kesadaran akan datang kepadamu?”
Begitulah manusia. Melompat, berayun, dari satu mimpi ke mimpi yang lain; selalu haus menuju yang lebih tinggi. Lalu lupa mana yang telah diraih, lupa melihat setinggi mana sudah pergi, lupa bagaimana Allah selamatkan dari kejatuhan, lupa bagaimana Allah berikan pijakan.
Mari memohon ampun.
Mari bersyukur.
Mari bermimpi.
Mari bekerja keras.
Mari sertakan Allah. Selalu.
Ada orang-orang yang kita benci, sementara mereka berjuang keras untuk kebaikan kita. Kita menilai lalu menghakimi, sementara mereka mencintai lalu bekerja keras. Kita cemooh mereka, membuat sedikit pedih hati mereka, tetapi toh mereka tetap berjuang demi kebaikan kita. Saya sedang bicara tentang sebagian pemimpin kita yang baik, yang sering tak kita ketahui kerja-kerja mereka, namun stigma “Tak ada pemimpin yang baik di negeri ini” telah begitu kuat menancap. Saya tidak tahu siapa saja mereka, tetapi saya bertanya-tanya, bagaimana jika ada satu-dua yang demikian? Bagaimana jika yang selalu saya cemooh begitu mencintai saya namun tak sempat terungkap, upaya kerasnya tak mampu saya lihat, dan buah kerjanya tak pernah saya syukuri? Bagaimana jika kita tukar cemoohan kita dengan doa-doa kebaikan untuk mereka dan untuk negeri ini? Mengeluarkan energi yang kira-kira sama namun lebih produktif. Kalaupun yang kita doakan bukan pemimpin yang baik, jika doa kita adalah doa kebaikan, Allah bisa baikkan pemimpin tak baik itu, atau bisa pula Allah baikkan negeri ini dengan hindarkan kita dari pemimpin macam itu, atau cara lain yang Allah sukai. Jangan lupa pula ikhtiar terbaik sesuai kapasitas kita untuk kebaikan negeri ini, mungkin saja kita adalah jawaban yang Allah persiapkan untuk doa-doa itu. Siapa tahu?
http://ridwankamil.net/download










Terharu.
Ya Allah, Engkau yang Maha Baik, selalu memberi kami yang terbaik. Kami tak tahu yang terbaik bagi diri kami. Kami berikhtiar dengan mendukung dua hambamu ini, berharap mereka adalah pemimpin yang terbaik yang Engkau hadirkan untuk kota kami. Jika Engkau ridho, tak ada yang bisa menolaknya; jika Engkau tidak ridho, sesungguhnya apa yang Engkau ridhoi adalah yang terbaik.
Hai Indonesia, doakan Bandung ya :)
Persuasi Efektif, Bagaimanakah?
Ada sebuah model, atau framework, yang dapat membantu kita memahami bagaimana proses persuasi berlangsung, namanya “Elaboration Likelihood Model”, atau kita sebut saja ELM, dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John Cacioppo (1981).
Intinya, ELM ini mengatakan bahwa :
1. Sebuah pesan persuasi akan efektif, memiliki dampak yang optimal, manakala penerima pesan memproses pesan dengan proses elaborasi yang tinggi. Sederhananya, pesan diproses dengan penuh pemikiran.
2. Agar penerima pesan memproses pesan dengan proses kognisi yang tinggi, penerima pesan harus memandang pesan tersebut relevan/penting/menarik bagi dirinya, dan secara kognitif khalayak mampu memproses pesan tersebut.
Wujud dari ELM adalah seperti ini :

Coba perhatikan model tersebut. Secara visual, model ini terbagi menjadi dua kolom, yaitu kolom kiri (motivated to process - central positive/negative attutide change) dan kolom kanan (peripheral attitude shift & peripheral process operating). Kolom kiri dinamakan dengan “Central Route”, dan kolom kanan dinamakan dengan “Peripheral Route”.
Menurut model ini, proses persuasi akan efektif jika pesan diproses khalayak melalui central route. Sebab, central route menggambarkan bahwa khalayak melakukan proses elaborasi terhadap pesan.
Jika suatu pesan diproses khalayak melalui rute ini, maka dampak pesan persuasi akan kuat: bertahan lama, kuat terhadap counter-persuasion, dapat membentuk sikap/perilaku yang diharapkan/diprediksikan, terlepas dari apakah sifatnya positif (sejalan dengan pesan persuasi) atau negatif (kontra dengan pesan persuasi).
Namun, berbagai kondisi bisa menyebabkan khalayak tidak mengambil rute ini. Misalnya, khalayak tidak termotivasi untuk bahkan sekadar melirik pesan (mungkin khalayak tidak merasa relevan, atau khalayak berada dalam“banjir“ informasi, dsb), atau khalayak tidak mampu memproses pesan (entah karena kemampuan kognisi, banyaknya distraksi, dsb). Untuk itu, ada peripheral route, yang sederhananya menjadi jalur back-up agar khalayak bisa kembali ke central route, atau paling tidak menciptakan perubahan kognisi/sikap meski sifatnya akan lemah dan temporer.
Peripheral route sendiri adalah “rute mudah”, atau “jalan pintas”, bagi khalayak dalam memproses suatu pesan. Jika pada central route khalayak meibatkan proses kognisi yang tinggi, pada peripheral route proses kognisi tidak bersifat intensif. Peripheral route mengandalkan hal-hal yang peripheral (sampingan), di luar substansi pesan, agar khalayak tetap stick to the message, seperti kemenarikan presentasi pesan (misalnya, desain yang indah, slogan yangcatchy), kemenarikan komunikator (endorser yang tampan/cantik), kredibilitas komunikator (gelar “dr.” untuk endorser pesan kesehatan), kesederhanaan pesan, dan banyak lagi.
Kedua rute ini bukanlah rute “pilih salah satu”, melainkan lebih seperti dua kutub continuum yang menggambarkan derajat elaborasi khalayak terhadap suatu pesan. Sebaik apapun kemampuan seseorang untuk mengelaborasi pesan, dalam kadar tertentu rute peripheral tetap memiliki pengaruh terhadap motivasi/kemampuan orang tersebut.
Dengan kata lain, the way we say it (peripheral route) sama pentingnya dengan what we say (central route).
Okay, setelah memahami model ini, lalu?
Yang menyenangkan adalah, dengan kita memahami bagaimana proses persuasi berlangsung (menurut model ini), kita menjadi lebih berkuasa untuk merekayasa bagaimana pesan kita akan bekerja, bagaimana proses persuasi kita akan berjalan.
Perlu diingat, model ini tidak serta-merta membuat kita jago dalam mempersuasi. Sekali lagi, ini adalah framework, kerangka. Kerangka ini perlu kita isi dengan pesan persuasi yang memang bagus dan kuat, juga strategi dan berbagai taktik. Yang pertama adalah soal kualitas gagasan, yang kedua adalah soal kreativitas.
Sekadar ilustrasi, saya bersama beberapa teman menggunakan cara berpikir model ini pada kampanye pemilihan ketua dan wakil ketua BEM UI 2012, alhamdulillah, it works! Apresiasi publik sangat baik, kandidat yang kami usung saat itu unggul di 11 dari 13 fakultas. Saat menjalani setahun kepengurusan di BEM UI 2012 pun demikian. Meski jauh dari sempurna, cara berpikir model ini membantu kami menggaungkan gagasan-gagasan kami dan isu-isu yang kami angkat, yang disambut dengan baik oleh publik. Alhamdulillah.
Sebagai penutup, persuasi bukanlah kosmetik atas gagasan murahan. Persuasi juga bukan gagasan brilian yang berbicara melangit. Persuasi adalah kualitas pesan dan kualitas cara menyampaikan pesan. Albert Einstein dengan baik menggambarkan perlunya penguasaan gagasan yang baik dan cara menyampaikannya,
“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”
Gambar apakah ini? A. Markas Power Ranger B. Markas Teletubbies
Ngumpul. Taman Perpustakaan Universitas Indonesia.
Men, tetiba kangen BEM UI 2012.
Well, saya bisa bilang, BEM UI 2012 adalah experience terbaik saya selama kuliah, bahkan sepanjang sejarah saya berorganisasi. Setiap prosesnya, setiap hari yang saya lalui di BEM UI 2012, begitu saya nikmati, begitu saya cintai.
Syukurlah, kami sempat membuat beberapa video selama di BEM UI 2012, yang kini menjadi kotak memori bagi mereka yang mencintai BEM UI 2012. Ah, terima kasih anak-anakku yang kece, especially Waskitha the Videomaker, you rock!
Alhamdulillah, terima kasih Allah, telah menempatkan saya di sana, di BEM UI terbaik sepanjang masa! Hehe.
P.S: Bagi yang punya memori bersama BEM UI 2012, saksikan ini dalam fullscreen dan HD untuk pemanjaan memori yang optimum.
Q:kak tanya dong. kalau edit video kakak biasanya pake apa? trus kalau back sound vide celebration BEM UI 2012 judulnya apa ya? :)
Halo, maaf baru balas. Untuk editing tanpa animasi, saya pakai Sony Vegas. Untuk bikin/editing animasi, saya pakai Adobe After Effects. Judul background music ”Celebration” BEM UI 2012 adalah “Midnight City”, dari M83.

